My Blog

Just another WordPress.com weblog

gw bikin p yah?

Aku jadi bingung dengan apa yang sedang aku hadapi, mungkin aku bisa dianggap sebagai orang yang plinplan, tidak punya prinsip, tidak punya pendirian. Tapi apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku pikirkan. Mulai darimana aku harus menentukan masa depanku, sebenarnya apa yang ingin sekali aku harapkan, aku juga nggak tahu, sebenernya apa yang menjadi tujuan hidupku? Apa yang aku sukai? Apa yang aku harapkan untuk diriku?.
Pikiranku mulai bimbang, setelah mendengar penuturan dari om Jun, seorang wakil ayahku yang sekarang masih kerja di sebuah lembaga Local Education Center sebuah yayasan pendidikan pengembang mutu SMP swasta di kabupaten.aku mulai bimbang,pikiranku mulai ngga jelas, apa yang aku dengar dari om jun tentang penilain memang benar. Apa yang aku kerjakan bisa dilihat oleh orang yang memang benar-benar tahu ataupun tidak, jika yang melihatku adalah orang-orang yang tidak mengerti maka ia akan berpikir yang aku lakukan adalah salah, dan jika ia adalah orang yang tahu akan apa yang akulakukan ia akan mengatakan bahwa aku benar. Pemahaman orang lain membuat aku berpikir ” apa yang sebenarnya didengar oleh ayahku, darimana sebenarnya ia mendengar? Apakah dari golongan orang yang mengerti dan faham akan apa yang aku lakukan atau dari orang yang tidak faham?”. Padahal apa yang mereka mengerti tentang diriku? Tidakada ! yang mereka pikirkan tidak semuanya benar……………

Wajah ini bukan wajahku.Senyum nyinyir ini bukan senyumku.Canda ini tidak ada lagi dalam ucapku. Aku seperti binatang yang sedang diajari bertatakrama. Dimana aku makan, Dimana aku minum, Dimana aku hajat.

Jika aku salah sedikit saja, aku akan dianggap banyak melakukan kesalahan, aku akan dianggap telah mengecewakan, dianggap inilah, dianggap itulah. Apa yang dia dengar, tidak semuanya benar. Semua keslahan selalu direview kembali disebut satu persatu yang ada dimasa lalu, aku yang pernah ini, aku yang pernah itu, kenapa dia selalu melihat kepada apa yang telah aku lakukan dimasa lalu, kenapa harus dihubung-hubungkan kepada semua yang telah terjadi. Kita hidup ke depan kepada apa yang telah kita rekam untuk masa depan, ini adalah proses.
Aku memang telah mengambil keputusan, tapi senyumku mulai menjadi buatan, tawaku terkadang mulai hambar untuk diriku, wajahku mulai banyak tertekuk. Bahagiaku terasa hanya sementara, sedangkan dalam pikiran ini ada sesuatu yang tidak pernah disampaikan. Ada sesuatu yang membuat bahagia untukku kembali sembunyi. Aku nggak mengerti dengan hidup ini, dengan apa yang sekarang sedang aku jalani, dengan kehidupan yang bukan berawal dariku.
Kepalaku mulai ingin meledak, aku mulai mengerti tapi tak mengerti, kata ”iya” keluar dari mulut tapi terasa bisu. Aku sedang belajar tapi bukan mempelajari, aku sedang membaca tapi mata seakan buta, aku sedang diberitahu bukan ingin mengetahui, aku mungkin salah tapi tidak semuanya salah. Hanya sebagian yang benar, aku membela diri dianggap kurang ajar, mulutkupun seakan terkunci dan tidak bisa bicara.
Apa sebenarnya yang sedang ingin aku hadapi sekarang aku jadi tidak mengerti, apa yang ingin aku capai? Aku jadi tidak tahu, seakan semua buyar begitu saja, jadi tidak faham untuk apa sebenarnya hidup ini.
Hari ini Rabu, 19 April 2006. Ilah seorang teman, mantan pacar, sahabat, saudara, kerabat, datang kepadaku untuk menawarkan sebuah kesempatan bisnis padaku. Aku senang dia datang menemuiku, ada jiwa yang terhibur, ada senyum yang seakan tidak dipaksakan. Saat itu aku memakai setelan kemeja hitam dengan celana cut bray dan sendal entah hak-nya 5 atau 7 yang pasti membuat kakiku mulai lecet. Pakaian yang biasa tidak kupakai, pakaian yang menggambarkan betapa dewasanya aku, bahwa aku seorang pekerja, seorang karyawan. Aku sedang diajari bagaimana menjadi dewasa, apa memnag sudah saatnyakah? Saat teman-temanku disana menggunakan celana jean’s dengan baju kaos oblong dan jaket, dengan tas terselendang sebagai seorang mahasiswa, apa memang aku belum dewasa? apa aku memang harus mulai bekerja? Aku tetap tidak mengerti, apa sifat, karakterku tidak sama dengan manusia-manusia seumurku? Apa sekanak-kanak itukah aku?.
Apa benar aku akan diajari tentang arti sebuah kedewasaan? Seperti apa seh rasanya dewasa? Apa akan lebih baik dari sekarang? Ayahku terkadang sering menyebut-nyebt tenatng masa lalu, menghubung-hubungkan kesalahan hari ini dengan masa lalu, menggambarkan betapa kecilnya aku, betapa aku tidak berarti, betapa aku tidak bisa memaafkan diriku untuk segala kesalahan yang telah aku lakukan dimasa lalu saat aku mengingatnya. Cerita apa lagi yang sekarang sedang aku jalani, aku berusha tersenyum padahal aku sedang ingin menangis.
Kemana aku yang semangat, kemana aku yang menggebu-gebu, kemana aku yang………

Apa yang sedang aku mainkan, jadi siapa aku ini?

Februari 13, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.